Pages

Tuesday, November 9, 2010

Soleh vs Solehah




============================

Ciri-ciri lelaki soleh atau wanita solehah

============================


Hatinya sentiasa terpaut (teringat-ingat) kepada Allah swt. Merasakan segala ketaatan dan amal ibadahnya itu, bukan daripadanya. Sebaliknya itulah kurniaan Allah kepadanya. Apabila mendapat nikmat dan kesenangan, dia tidak leka dengannya tetapi hatinya terus terkenang kepada Allah yang memberi nikmat.

Sehingga dengan itu dia tidak pernah melupakan perintah syukur sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran dalam surah Al Baqarah ayat 172 yang bermaksud:


“Bersyukurlah kamu kalau betul engkau menyembahNya.”


Apabila didatangi dengan berbagai ujian tidak kiralah samada ujian besar mahupun kecil; bagaikan orang yang terkena kejutan elektrik; hatinya terus terkenang-kenang dosa-dosa yang telah dilakukan.

Apakah ujian demi ujian yang datang itu untuk menghapuskan dosaku? Atau untuk mendidik diriku agar lebih soleh atau solehah? “Wahai Tuhanku, kalau beginilah hukumanMu untukku di atas dunia ini, aku rela menerimanya dari diazab oleh api neraka yang amat pedih. Ampunkan dosa hambaMu ini ya Allah.”

Bila hati telah berkata begitu, tidaklah timbul rasa ingin mengadu ke sana dan ke mari atau mengeluh di atas segala kesusahan.

Redha terhadap setiap ujian yang datang. Dia tidak berani menyanggah atau mengkritik Allah swt. Sentiasa yakin dengan keadilan dan kebijaksanaan Allah di dalam menentukan setiap hal yang berlaku. Atas dasar itu dia menerima berbagai rintangan dan halangan itu dengan lapang dada.

Malah hati yang sudah cinta dengan Allah itu menjadikan setiap ujian yang datang, tidak dirasakan masalah lagi. Hatinya terhibur dengan mehnah yang datang kerana dia tahu itulah kasih sayang dan perhatian Allah swt kepadanya.

Semakin berat ujian yang menimpa diri, sekencang itulah juga ibadahnya kepada Allah swt. Sembahyang bertambah khusyuk dan semakin lazat dirasakan bermunajat kepada Allah swt. Dalam sepi malam dia bangun bermunajat kepada Allah swt, memohon dibukakan tabir keampunan dan kerahmatan. Pada siang harinya disibukkan diri dengan kerja-kerja yang bermanfaat pada diri dan masyarakat sementara segala masalah yang dihadapi cuba dilupa-lupakan.

Tidak sedikit pun melayan kejahatan-kejahatan nafsu dan prasangka buruk terhadap sesama manusia. Kerana dia tahu nafsu dan syaitan tidak pernah berputus asa untuk mengajak kepada kemungkaran. Allah swt telah mengingatkan di dalam firmanNya:


“… karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”

(Yusuf: 53)

Ketika datang bisikan-bisikan nafsu yang meruntun diri supaya berbuat jahat seperti hasad dengki kepada jiran tetangga atau orang lain, berburuk sangka terhadap kawan, bermasam muka kepada suami, mengumpat dan sebagainya; cepat-cepat ditepiskan bisikan menipu itu.

Dia sedar, sekali diri berbuat dosa, akan bertapaklah bintik-bintik hitam di hati, menyebabkan hati akan semakin keras bak batu sungai yang sukar dipecahkan. Rasulullah saw bersabda:

“Bila seorang hamba membuat dosa terjadilah satu bintik hitam di hatinya dan kalau bertambah dosanya bertambahlah bintik-bintik hitam itu.”

Sabda baginda yang lain:

“Orang yang membuat dosa hilanglah sebahagian akalnya untuk tidak kembali lagi selama-lamanya.”


Tidak pernah terfikir atau merancang untuk menyakiti hati orang lain lebih-lebih lagi suami, isteri, ibu, ayahnya sekalipun dirinya sendiri. Contohnya, sekembalinya suami ke rumah, tiba-tiba dirinya dijadikan sasaran untuk melepaskan geram. Miskipun dia tahu itu bukan salahnya, tetapi sebagai seorang isteri yang solehah sedikit pun tidak dikesali perbuatan suaminya itu. Sebaliknya menyesali diri yang masih lagi belum solehah kerana dirasakan dirinya gagal untuk memberi kebahagiaan kepada suaminya itu.

Patuh terhadap arahan suami dan suka menunaikan permintaan daripada sesiapa jua, tanpa banyak soal.

Bukanlah kehidupannya untuk mencari pangkat dan nama kerana dia tahu di atas dua tiket inilah yang membawa manusia rakus dengan dunia sehingga sanggup berbuat apa sahaja untuk mencapainya. Sebaliknya, dia menjadikan seluruh kehidupan ini untuk mencari kerdhaan Allah swt semata-mata.


Kesimpulannya, masih terlalu banyak peribadi-peribadi lelaki soleh dan wanita solehah yang belum dicungkil tetapi kiranya kesemua sifat yang di atas tadi dapat kita rintis dengan baik, insyaalLah kita akan memiliki hati yang tenang. Hanya orang yang membawa hati yang tenang dan sejahtera sahaja yang akan selamat menemui Allah di akhirat kelak. Maka berdoalah kita selalu semoga diberi cahaya keimanan, cahaya bagi segala cahaya yang tiada tolok bandingnya yang bakal memberikan laluan lurus untuk selamat menuju Tuhan yang Maha Agung. Aminn…


sumber : http://jalanakhirat.wordpress.com/2010/04/22/lelaki-soleh-dan-wanita-solehah/

..30 Cara Melembutkan Hati..

Hadis riwayat Aisyah ra. isteri Nabi saw.:Rasulullah saw. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya.

Kita tidak lalai akan doa yang satu ini : "Ya Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah diriku dalam Agama-Mu dan dalam Ketaatan kepada-Mu".

Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutin kita yang memerah tenaga dan fikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan "makanan-makanan" hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati.. Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.


Untuk itu, beberapa nasihat berikut patut kita renungi bersama dalam upaya melembutkan hati. Kita hendaknya senantiasa:


1. Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.

2. Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allahitu pasti diminta pertanggungjawabannya.

3. Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalansyaitan.

4. Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.

5. Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.

6. Takut mengakhiri hidup dengan su'ul khatimah.

7. Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.

8. Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.

9. Takut akan azab di alam kubur.

10. Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kitalakukan.

11. Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambutdan lebih tajam dari pedang.

12. Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.

13. Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.

14. Takut terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidakbersyukur.

15. Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.

16. Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.

17. Kekhuatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan padahari timbangan ditegakkan.

18. Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan hartakepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaikiurusan ini kecuali pada Allah.

19. Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya' ke dalam hati, kerana terkadang riya' itumemasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullahpernah berkata kepada dirinya sendiri. "Berbicaralah engkau wahai diri. Denganucapan orang soleh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amalorang fasik dan riya'. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis".

20. Jika kita ingin sampai pada darjat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlakseorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.

21. Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.

22. Ketahuilah bahwa amal soleh dengan keistiqomahan jauh lebih disukai Allahdaripada amal soleh yang banyak tetapi tidak istiqomah dengan tetap melakukandosa.

23. Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirehat dari dunia dan akan menuju akhiratdan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.

24. Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sihat.

25. Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajarandan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yangsedang diusung.

26. Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kitasedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Danmenyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetapmengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, danmengatakan bahwa kita pasti mati padahal tidak pernah ingat mati.

27. Lihatlah dunia dengan pandangan Iktibar (pelajaran) bukan dengan pandanganmahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.

28. Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kitasanggup menghadapi panasnya jahannam?

29. Di antara akhlak wanita mukminah adalah menasihati sesama mukminah.

30. Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakankepadanya, "Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal soleh maka diajauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baiksedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah."


Allah Maha Lembut kepada hamba-hambaNya, Dia memberi rezeki kepadasesiapa yang dikehendakiNya dan Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. As-Syura:19

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang". Maryam:96

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui". Al-Maidah:54

..BUNGA YANG CANTIK JARANG HARUM..




Wanita sinonim dengan kecantikan. Istilah “cermin” dalam bahasa Arab dekat sangat dengan wanita – kerana cermin itu dekat pula dengan kecantikan. Bercermin untuk kelihatan cantik. Ke mana-mana wanita pergi, cermin ada di sisi.

Bagi yang tidak cantik bagaimana? Mereka bukan wanita?

Tunggu dulu, setiap yang Allah cipta pasti indah kerana Allah itu Maha Indah dan suka pada keindahan. Tuhan tidak mencipta manusia hodoh, Tuhan hanya mencipta manusia dengan kecantikan berbeza. Jadi, ingat itu… setiap wanita berhak untuk cantik!

Soalnya, di manakah letaknya kecantikan sebenar pada seorang wanita? Kalau kita tanyakan kepada para lelaki maka sudah pasti kita akan temui pelbagai jawapan. Ada yang merasakan kecantikan wanitaitu pada wajah, pada bentuk tubuh, pada kebijaksanaan atau pada tingkah lakunya.

Dan pada yang menyatakan kecantikan pada wajah pula terbahagi kepada pelbagai pandangan, ada yang mengatakan kecantikannya terletak pada hidung, pada mata dan sebagainya. Pendekata kecantikan itu bagi anggapan sesetengah orang sangat relatif sifatnya. Lain orang, lain penilaiannya.

Namun sebagai seorang Islam, kita tentulah ada kayu ukur tersendiri untuk menilai kecantikan. Kita tentunya mengukur kecantikan wanita mengikut kayu ukur Islam. Dan tentu sahaja kecantikan yang menjadi penilaian Islam adalah lebih hakiki dan abadi lagi.

Misalnya, kalaulah kecantikan itu hanya terletak pada wajah, wajah itu lambat-laun akan dimakan usia. Itu hanya bersifat sementara. Apabila usia meningkat, kulit akan berkedut tentulah wajah tidak cantik lagi. Jadi tentulah ini bukan ukuran kecantikan yang sejati dan abadi.

Sebagai hamba Allah, kita hendaklah melihat kecantikan selaras dengan penilaian Allah atas keyakinan apa yang dinilai oleh-Nya lebih tepat dan betul. Apakah kecantikan yang dimaksudkan itu? Kecantikan yang dimaksudkan ialah kecantikan budi pekerti ataupun akhlak. Itulah misi utama kedatangan Rasulullah SAW – untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Kecantikan akhlak jika ada pada seseorang, lebih kekal. Inilah kecantikan yang hakiki mengikut penilaian Allah. Hancur badan dikandung tanah, budi baik di kenang juga. Kecantikan akhlak ini juga adalah satu yang lebih abadi. Kata pepatah lagi, hutang budi dibawa mati. Malah akhlak yang baik juga sangat disukai oleh hati manusia. Contohnya, kalaulah ada orang yang wajahnya sahaja cantik tetapi akhlaknya buruk, pasti dia akan dibenci.



Ya, mata menilai kecantikan pada rupa. Akal menilai pada fikiran. Nafsu menilai pada bentuk tubuh. Tetapi hati tentulah pada akhlak dan budi. Kecantikan akhlak ini diterima oleh semua orang. Katalah orang jujur, siapapun suka. Semua orang sepakat menyayangi orang yang jujur itu disukai. Sedangkan jika menurut ukuran rupa, penilaian manusia tetap tidak sama. Sebab itu ada pepatah yang mengatakan, ‘beauty in the eye of beholder’.

Rasulullah saw juga telah pernah menegaskan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah. Wanita solehah ialah perhiasan rumah-tangga, perhiasan masyarakat dan perhiasan negara. Jika ada ibu yang solehah, anak-anaknya tentu mendapat manfaat. Mereka akan terdidik dengan baik.

Jika ada isteri yang solehah, suami pun akan mendapat manfaat. Para isteri ini akan memudahkan urusan rumah-tangga, menjalinkan hubungan keluargha dengan penuh kasih-sayang dan lain-lain. Tuturkatanya baik, tingkah lakunya baik, senyumannya menawan dan segala-galanya indah… mereka bayangan bidadari syurga di dunia ini.

Kenapa banyak wanita yang memiliki kecantikan tetapi musnah hidupnya? Ada ungkapan yang berbunyi, kemusnahan akan menimpa bilawanita mula merasai dirinya cantik dan mempamirkan kecantikan. Sejauhmana benarnya, wallahua’lam. Tetapi apa yang pasti, menurut Islam jika kecantikan tidak disertai iman yang kuat, maka pemiliknya akan hilang kawalan diri. Akibatnya ramai wanita cantik diperdayakan oleh syaitan untuk menggoda manusia melakukan kemungkaran. Lihatlah di sekeliling kita. Kata orang, bunga yang cantik jarang yang harum! Ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah.

Tanpa iman, kecantikan akan dipergunakan ke arah kejahatan dan kemaksiatan, yang akhirnya akan memusnahkan diri pemiliknya dan orang lain. Cuba kita lihat apa yang terjadi kepada bintang filem barat (di sinipun apa kurangnya), ada yang memporak-perandakan negara, rumah-tangga dan berakhir dengan sakit jiwa dan bunuh diri.



Cantik tidak salah, tetapi salah menggunakan kecantikkan itulah yang salah. Kata orang, wanita yang cantik jarang berakhlak. Umpama bunga yang cantik, jarang yang wangi. Tetapi kalau cantik dan berakhlak pula, inilah yang hebat. Umpama cantiknya wanita solehah pada zaman nabi seperti Siti Aishah RA, Atikah binti Zaid dan lain-lain.

Bagaimana mendapat kecantikan sejati? Perlu kita faham kecantikan itu bermula dari dalam ke luar. Bukan sebaliknya. Oleh itu pertama, tanamkan di dalam hati kita iman yang benar-benar kuat berdasarkan ilmu yang tepat dan penghayatan yang tinggi. Iman itu keyakinan, kasih sayang, kemaafan, sangka baik dan reda. Rasa-rasa ini buktikanlah dengan perbuatan yang baik. Bila hati baik, wajah akan sentiasa cantik.

Jadi perkara kedua ialah susulilah iman itu dengan perbuatan yang baik. Ertinya, kita atur kehidupan mengikut syariat atau peraturan Tuhan. Dan apabila iman ditanam, syariat ditegakkan, akan berbuahlah akhlak yang mulia. Wajah, perilaku dan peribadi kita akan nampak cantik sekali. Inilah yang dikatakan kecantikan yang hakiki. Biar buruk rupa, jangan buruk perangai. Apa gunanya mulut yang cantik kalau kita gunakan untuk mengumpat?


Ya, kecantikan akhlak… boleh dimiliki oleh sesiapa sahaja, oleh yang rupawan mahupun yang hodoh. Itu bukti keadilan Allah yang mencipta wanita dengan berbagai wajah dan rupa… tapi peluangnya untuk “cantik” tetap serupa!


Ustaz Pahrol Mohd Juoi